PALU, FILESULAWESI.COM – Sekretaris Jenderal Pengurus Besar (PB) Alkhairaat Palu, Jamaludin Mariadjang, menyampaikan sejumlah pandangan terkait pentingnya penyelenggaraan Haul Guru Tua atau Al-Habib Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri.
BACA JUGA: Dari Mimbar Idulfitri, Gubernur Sulteng Tekankan Perjuangan dan Persatuan
Dalam konferensi pers bersama awak media, Kamis (26/3/2026) sore, Jamaludin menjelaskan bahwa Haul Guru Tua memiliki dua makna utama yang menjadi dasar peringatan tersebut setiap tahunnya.
BACA JUGA: Gubernur Sulteng Rajut Kebersamaan Idul Fitri bersama Wali Kota Palu
Makna pertama adalah keteladanan sosiologi religius. Menurutnya, kehadiran Guru Tua di tengah masyarakat bukan hanya sebagai tokoh, tetapi sebagai figur yang memberikan dampak luas, baik dalam aspek keilmuan maupun akhlak.
“Kalau diibaratkan, Guru Tua itu seperti mutiara, sementara masyarakat adalah jangkar. Keduanya tidak bisa dipisahkan,” ujar Jamaludin Mariadjang kepada redaksi Filesulawesi.com.
Ia juga mengibaratkan hubungan tersebut seperti lampu dan minyak, di mana Guru Tua sebagai sumber cahaya dan masyarakat sebagai penopangnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa peringatan haul menjadi momentum untuk mengingat kembali kontribusi besar Guru Tua dalam membangun kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
Makna kedua, lanjut Jamaludin, adalah dimensi sosiologis kultural. Guru Tua dinilai memiliki peran kuat dalam sejarah bangsa Indonesia, khususnya di kawasan timur.
Ia menyebutkan bahwa Guru Tua tidak hanya dikenal sebagai sosok ulama, tetapi juga sebagai pendiri lembaga pendidikan yang menjadikan masyarakat sebagai bagian dari sistem pengembangan pendidikan itu sendiri.
“Yang kita peringati bukan hanya sosok pribadi, tetapi peran besar beliau dalam sejarah bangsa,” katanya.
Jamaludin juga menyinggung pentingnya pengakuan negara terhadap jasa-jasa Guru Tua. Menurutnya, kontribusi besar tersebut menjadi alasan kuat mengapa Guru Tua layak mendapatkan gelar kepahlawanan.
Ia menambahkan bahwa sosok Guru Tua tidak bisa dipisahkan dari masyarakat, terutama dalam konteks keberagaman suku di Indonesia bagian timur. Hal ini, menurutnya, berbeda dengan sejumlah tokoh lain yang peringatan haulnya dilakukan secara terbatas.
“Ketika kita memperingati Guru Tua, di situ hadir masyarakat secara luas. Ini menunjukkan dimensi kultural dan keteladanan yang kuat,” jelas Sekjen PB Alkhairaat.
Meski demikian, Jamaludin menegaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud membandingkan Guru Tua dengan tokoh perjuangan lainnya. Namun, ia menilai Guru Tua memiliki posisi penting dalam sejarah bangsa yang patut diapresiasi.
Di akhir penyampaiannya, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menggali nilai-nilai perjuangan dan keteladanan Guru Tua sebagai bagian dari upaya membangun mentalitas bangsa Indonesia.
“Haul Guru Tua bukan sekadar peringatan, tetapi momentum untuk mengambil pelajaran dalam membenahi karakter bangsa,” tutupnya.zal










