PALU, FILESULAWESI.COM – Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, Muh. Rizal, menyampaikan bahwa pihaknya telah membentuk sejumlah posko siaga di beberapa kabupaten di wilayah Sulawesi Tengah guna memperkuat pelayanan pencarian dan pertolongan (SAR).
BACA JUGA: Jaga Kebersihan dan Tata Lingkungan, Pesan Walikota Palu kepada Korcam dan Korlur
Posko-posko tersebut berada di Kabupaten Parigi Moutong, Toli-Toli, Banggai, Banggai Laut (Balut), Banggai Kepulauan (Bangkep), serta Morowali.
BACA JUGA: Pembukaan Pasar Tani di Kota Palu Hadirkan Komoditas Pangan untuk Warga
“Terbaru per tanggal 1 Maret 2026 kemarin, kami kembali membentuk satu Unit Siaga di Ampana untuk membackup penyebrangan dari Gorontalo menuju wilayah Kepulauan Togean,” kata Rizal kepada redaksi Filesulawesi.com, Jumat (13/3/2026).
Kemudian ia menjelaskan, dalam menjalankan tugas pemantauan dan kesiapsiagaan SAR, Basarnas Sulteng terus berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait, termasuk BMKG, Kepala Bandar Udara, serta otoritas pelabuhan untuk memantau kondisi cuaca.
Menurutnya, apabila terjadi cuaca ekstrem, pihak terkait diharapkan segera memberikan imbauan kepada masyarakat, khususnya para nelayan, agar mempersiapkan alat keselamatan sebelum berlayar.
“Kami tetap berkoordinasi dengan BMKG, kemudian Kepala Bandar Udara dan Kepala Pelabuhan. Jika ada cuaca ekstrem, diharapkan masyarakat terutama nelayan mempersiapkan alat keselamatan saat akan berlayar,” jelasnya.
Rizal juga menegaskan pentingnya setiap pelayaran dilengkapi dengan alat komunikasi yang memadai. Hal ini bertujuan agar dalam kondisi darurat para pelaut dapat segera menghubungi tim SAR.
“Semua pelayaran seyogyanya memiliki alat komunikasi. Sehingga jika dalam keadaan darurat, mereka bisa langsung berkomunikasi dengan kami,” tambahnya.
Selain alat komunikasi, Basarnas juga mendorong masyarakat yang beraktivitas di laut untuk memiliki alat deteksi dini seperti Personal Locator Beacon (PLB).
PLB merupakan perangkat penting yang digunakan dalam operasi SAR karena mampu memancarkan sinyal darurat pada frekuensi 406 MHz ke satelit saat diaktifkan dalam kondisi bahaya.
“Begitu alat tersebut diaktifkan, satelit akan menangkap sinyal darurat sehingga posisi korban dapat diketahui dan memudahkan tim SAR melakukan pertolongan,” tutup Rizal.zal






