Wakil Gubernur Ajak TPID Se-Sulteng Gerak Cepat Antisipasi Inflasi Jelang Idul Fitri

PALU, FILESULAWESI.COM – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dr. Reny A. Lamadjido, mengajak seluruh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten/Kota se-Sulteng untuk menyampaikan saran dan masukan dalam momentum Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) TPID se-Sulteng.

BACA JUGA: Vatutela-Poboya Diduga Masif Operasi Industri Ilegal Berskala Raksasa

Bacaan Lainnya
M. Ridha Saleh

Forum tersebut digelar secara hybrid di Gedung Pogombo, Kamis pagi (26/2), dan dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Reny, sebagai ruang konsolidasi daerah dalam menghadapi tekanan inflasi yang kembali meningkat di awal tahun 2026.

BACA JUGA: Ketua APPMBGI Sulteng “Turun Rasa”, Dr. Hj. Kartini Malarangan Angkat Martabat Sokko Bagadang di Pasar Manonda

Wakil gubernur menuturkan bahwa inflasi Sulawesi Tengah pada Januari 2026 kembali bergerak naik dari ambang batas yang ditetapkan, setelah sebelumnya pada Desember 2025 berhasil ditekan hingga berada pada level toleransi 3,5%.

Kondisi ini tegasnya menjadi sinyal kuat agar seluruh unsur TPID se Sulteng menerapkan langkah-langkah antisipatif sejak dini.

Wakil Gubernur Reny mengungkapkan, perubahan cuaca ekstrem mempengaruhi produksi pangan di Sulteng sehingga menyebabkan kenaikan harga komoditas _volatile food_ seperti bawang, cabai, ikan laut, telur dan beras.

Selain itu, perilaku masyarakat yang cenderung memborong emas akhir-akhir ini, juga dinilainya memberi andil terhadap tekanan inflasi Sulawesi Tengah.

Menjelang libur Idul Fitri ke depan ini, Ia memprediksi akan diikuti dengan kenaikan harga tiket transportasi sebagai salah satu pemicu inflasi serta diikuti dengan meningkatnya pola konsumsi masyarakat pada periode tersebut.

“Ayo kita cari tahu betul apa yang harus dilakukan supaya inflasi ini turun dan sehat kembali,” dorongnya ke peserta agar berpartisipasi aktif memberikan usulan.

Sementara Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Muhammad Irfan Sukarna menerangkan bahwa cuaca ekstrem tidak hanya berdampak di Sulawesi Tengah, tetapi juga dialami sejumlah provinsi tetangga sekitar Sulawesi Tengah.

Kelangkaan stok pangan di daerah tetangga akibat cuaca ekstrem ini mendorong peningkatan permintaan pasokan dari Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah produsen pangan terdekat mereka.

Di sisi lain, periode libur panjang dan tradisi mudik diperkirakan akan ikut memicu lonjakan kebutuhan di sejumlah daerah.

Dengan arus keluar barang yang tinggi dari Sulawesi Tengah untuk memenuhi permintaan tadi dipastikan akan menimbulkan kelangkaan stok di dalam Sulawesi Tengah yang kemudian diikuti kenaikan harga.

Karena itu, ia menyarankan pentingnya langkah konkret dan terukur, antara lain melalui penajaman implementasi _framework_ 4K (ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif).

Mengintensifkan sidak pasar dan pelaksanaan pasar murah, optimalisasi neraca pangan, penguatan rantai distribusi, serta perluasan kerja sama antar daerah guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat khususnya di periode jelang idul fitri hingga pasca-idul fitri.

Ia optimis dengan strategi tersebut dapat mengembalikan inflasi Sulawesi Tengah ke ambang batas yang terkendali.

“Harapan kami saat bulan Maret, inflasi (Sulawesi Tengah) lebih melandai,” ujarnya optimis.(***)

Kasatker
Kadishub Kota Palu
Kakan Kemenag Kota Palu
Kepala Dinas Sosial Kota Palu
Camat Tatanga
Kepala Bapenda Kota Palu

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *