Ada Api Jangan Membakar Seluruhnya
PALU, FILESULAWESI.COM – Perwakilan masyarakat adat Kinovaro, Moh Kemal Idris, menyerukan pentingnya perdamaian dan toleransi dalam menyikapi persoalan yang tengah menjadi perhatian publik.
BACA JUGA: Kuasa Hukum Rafiq Al-Amri Temukan Cacat Hukum dalam Penyitaan
Moh Kemal Idris bersama dengan rekan-rekannya, setia hadir dalam mengikuti seluruh rangkaian prosesi sidang Praperadilan Rafiq Al-Amri, sejak dari awal hingga masuk ke sidang kesimpulan di PN Palu, hari ini, Kamis (3/9/2026) siang.
BACA JUGA: Gubernur Anwar Hafid: Sulteng Siap Ukir Sejarah
Dalam keterangan resminya Ia menegaskan, kritik boleh disampaikan, namun persoalan tidak seharusnya diperluas hingga merugikan pihak lain.
Perwakilan masyarakat adat tersebut menyampaikan pandangannya saat hadir untuk ketiga kalinya dalam mengikuti proses yang tengah berlangsung.
Ia menegaskan, kehadirannya bukan untuk membawa kepentingan organisasi maupun kelompok tertentu, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang ingin melihat persoalan diselesaikan secara damai.
“Saya kira pandangan kami sebagai masyarakat biasa. Masalah ini sebenarnya analoginya seperti ini, tidak akan mungkin ada asap kalau tidak ada api,” ungkap Kemal kepada redaksi Filesulawesi.com.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberadaan “api” tidak berarti seluruhnya harus ikut dibakar. Menurutnya, persoalan yang terjadi harus dilihat secara proporsional dan diselesaikan tanpa memperbesar konflik.
“Tapi kalau ada api, jangan membakar seluruhnya. Tidak harus membakar seluruhnya. Makanya saya berbicara sebagai masyarakat adat. Saya datang di sini menginginkan perdamaian, saya menginginkan toleransi,” kata dia menambahkan.
Ia juga menegaskan, bahwa sikap yang disampaikannya tidak didasari kepentingan kelompok tertentu. Jika dirinya membawa kepentingan organisasi atau kelompok, menurutnya, sejak awal narasi yang disampaikan tentu akan diarahkan untuk membela kepentingan kelompok tersebut.
“Seandainya saya punya kepentingan, kepentingan organisasi ataupun kelompok, pasti dari awal saya bicara ini demi kepentingan kelompok saya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai agama dalam menyampaikan pernyataan di ruang publik.
Sebagai seorang Muslim, ia menilai seorang tokoh agama harus berhati-hati dalam menyampaikan narasi yang berkaitan dengan keyakinan.
Menurutnya, ajaran agama semestinya disampaikan dengan tetap menjaga penghormatan dan tidak menjadikan persoalan agama sebagai bahan candaan.
Ia kemudian mengutip ayat Al-Qur’an, yang dimaknainya sebagai penegasan bahwa agama Islam merupakan agama yang diridai Allah.
Menurutnya, para ulama dan tokoh agama semestinya mengedepankan keteladanan, termasuk dalam menyampaikan dakwah dan menjaga hubungan antarsesama.
Meski menyampaikan kritik, ia kembali menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah mendorong terciptanya perdamaian dan toleransi di tengah masyarakat.
Ia berharap, persoalan yang ada tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas, terlebih jika dapat mengganggu hubungan antarmasyarakat.
“Kami datang di sini menginginkan perdamaian. Saya mewakili masyarakat adat,” tegasnya.
a menambahkan, masyarakat adat juga merupakan bagian dari masyarakat Indonesia sehingga memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan pandangan dan kritik terhadap persoalan yang terjadi.
Baginya, kritik tidak harus dimaknai sebagai bentuk permusuhan. Kritik justru dapat menjadi bagian dari kepedulian masyarakat agar setiap persoalan dapat diselesaikan secara adil, proporsional, dan tetap menjaga persatuan.
“Kalau ada api, jangan sampai semuanya dibakar. Kita harus mencari jalan untuk menyelesaikannya,” pungkasnya.zal







