PALU, FILESULAWESI.COM – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa (16/6/2026) pukul 11.27 WITA mengakibatkan kerusakan pada puluhan rumah warga dan sejumlah fasilitas publik di berbagai wilayah Kota Palu.
BACA JUGA: Fathur Razaq Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa di Nokilalaki dan Palolo
Berdasarkan data sementara dalam peta dampak bencana sumber dari Pusdatina Kantor BPBD Kota Palu, pusat gempa berada di wilayah Torue, Kabupaten Parigi Moutong, sekitar 42 kilometer tenggara Palu dengan kedalaman 10 kilometer.
BACA JUGA: Dinas Cikasda Sulteng Pastikan Kebutuhan Air Bersih Korban Gempa di Sigi Terpenuhi
Dampak gempa tercatat menyebabkan kerusakan pada 88 unit rumah yang tersebar di 11 kelurahan. Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, menjadi wilayah dengan jumlah rumah rusak terbanyak yakni 42 unit. Disusul Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, sebanyak 22 unit rumah mengalami kerusakan.
Selain permukiman warga, gempa juga berdampak pada berbagai fasilitas umum dan infrastruktur. Tercatat sebanyak 12 fasilitas umum mengalami kerusakan, termasuk rumah ibadah dan sarana pelayanan masyarakat. Sebanyak 10 fasilitas perkantoran turut terdampak, disusul 2 fasilitas pendidikan dan 6 tempat usaha.
Sejumlah objek yang mengalami kerusakan di antaranya Jembatan III Palu, beberapa masjid, gedung perkantoran, sekolah, hotel, serta tempat usaha yang tersebar di sejumlah titik di Kota Palu.
Kerusakan yang terjadi umumnya berupa retakan pada dinding bangunan, kerusakan atap, hingga gangguan pada struktur bangunan. Selain itu, aktivitas masyarakat sempat terganggu akibat kepanikan pascagempa. Beberapa ruas jalan juga dilaporkan mengalami retak dan berlubang sehingga memerlukan penanganan lebih lanjut.
Meski menimbulkan kerusakan material di berbagai sektor, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan pendataan dan asesmen di lapangan guna memastikan tingkat kerusakan serta kebutuhan penanganan bagi warga terdampak. Data kerusakan masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring proses verifikasi yang terus dilakukan oleh petugas.(***)









