DP3A Sulteng Gandeng Libu Mombine To Kaili, Perkuat Pemberdayaan Perempuan Berbasis Budaya Lokal

Penandatanganan MoU antara DP3A Sulteng dengan Libu Mombine To Kaili Sulteng. FOTO: Mohammad Rizal/Filesulawesi.com

PALU, FILESULAWESI.COM – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), menjalin kerja sama dengan Libu Mombine To Kaili Sulawesi Tengah melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU), sebagai upaya memperkuat pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak berbasis budaya serta kearifan lokal.

BACA JUGA: Cegah Hilangnya Makna Busana Adat, Libu Mombine To Kaili Sulteng Gelar Seminar Budaya di Palu

Bacaan Lainnya

Penandatanganan Mou tersebut dilakukan diruang pertemuan kampus STIA Panca Marga Kota Palu, Minggu (2/8/2026), yang diinisiasi langsung dari Libu Mombine To Kaili Sulteng.

BACA JUGA: Infrastruktur Pendukung Pelaksanaan FORNAS 2027 di Sulteng On Progress, Malah KORMI Pusat Batalkan Sepihak?

Kepada sejumlah awak media, Kepala DP3A Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Yudiawati V. Windarrusliana, S.K.M, M.Kes, mengatakan, kolaborasi tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas perempuan sekaligus melestarikan budaya To Kaili di tengah keberagaman suku dan budaya di Sulawesi Tengah.

“Melalui kerja sama ini, setiap kegiatan DP3A diharapkan mampu meningkatkan kapasitas perempuan, baik yang sudah berdaya secara ekonomi maupun yang masih membutuhkan penguatan. Perempuan yang sudah berdaya juga perlu memahami budaya dan kearifan lokal To Kaili,” ujar Yudiawati kepada redaksi Filesulawesi.com, disela-sela pelaksanaan Seminar Budaya dengan Tema: Satu Benang, Seribu Makna dalam Pakem bersama Adat Kaili yang Benar dan Santun.

Menurutnya, memperkenalkan adat, budaya, dan kearifan lokal To Kaili, merupakan langkah penting agar identitas budaya daerah tetap terjaga di tengah masyarakat yang majemuk.

Selain itu, DP3A Sulteng juga akan memfokuskan program pemberdayaan bagi perempuan yang secara ekonomi masih berada pada kelompok desil 1 hingga 4. Program tersebut diarahkan pada peningkatan keterampilan dan kemampuan usaha agar mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Yudiawati mencontohkan, salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah usaha kuliner khas Kaili. Menurutnya, hingga kini masih cukup sulit menemukan makanan khas Kaili di berbagai sudut Kota Palu, di Sulteng.

“Harapannya ke depan, makanan khas seperti Uta Kelo, Duo, Sesegapaya, Palumara, ikan bakar, dan kuliner tradisional lainnya semakin mudah ditemukan karena dikelola oleh pelaku usaha perempuan,” katanya menjelaskan.

Selain kuliner, DP3A Sulteng juga mendorong pelestarian keterampilan membuat dan menjual Sampolu atau Siga, yang merupakan penutup kepala khas masyarakat Kaili. Ia mengaku masih kesulitan menemukan produk tersebut saat berlangsung berbagai kegiatan berskala nasional.

“Keterampilan seperti ini perlu terus dikembangkan agar budaya To Kaili tidak hilang. Kami berharap Libu Mombine To Kaili dapat berperan aktif dalam menjaga dan melestarikannya,” ujarnya.

Yudiawati menambahkan, pelestarian budaya harus dimulai dari lingkungan keluarga karena perempuan merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Menurutnya, pengenalan budaya Kaili juga dapat diperkuat melalui dunia pendidikan, seperti penggunaan Sampolu pada hari tertentu maupun pembiasaan berbahasa Kaili di sekolah.

“Ini menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya DP3A, tetapi juga pemerintah daerah serta pemerintah kabupaten dan kota agar budaya To Kaili tetap lestari di tengah perkembangan zaman,” pungkasnya.zal

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *