ICFH Buka Peluang Pasar bagi UMKM Perempuan

Pelaksanaan Lokakarya tumbuhkan peluang oleh ICFH dan Amartha di Kota Palu. FOTO: IST

Optimalkan Potensi Ekonomi Sulawesi Tengah

PALU, FILESULAWESI.COM – Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang mencapai 8,47% pada 2025 membuka peluang bagi UMKM lokal untuk memperluas usaha dan menjangkau pasar yang lebih luas. Momentum ini perlu dioptimalkan melalui kolaborasi yang menghubungkan penguatan kapasitas usaha, akses pasar, formalisasi usaha, dan kesehatan finansial, khususnya bagi perempuan pengusaha UMKM agar dapat tumbuh lebih berkelanjutan.

BACA JUGA: Sambut Kedubes Rusia, Gubernur Buka Peluang Investasi di Sulteng

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Amartha Financial sebagai inisiator Koalisi Indonesia untuk Kesehatan Keuangan atau Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH) menggandeng Women’s World Banking dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) untuk menggelar program nasional Tumbuhkan Peluang di Palu.

BACA JUGA: Cegah Polusi Udara, Satpol-PP Kota Palu Ancam Denda Rp2 Juta bagi Pelaku Pembakaran

Kegiatan ini adalah bagian dari rangkaian lokakarya untuk mempertemukan sekitar 200 UMKM dengan mitra industri dan pembeli besar (offtaker) sekaligus mendorong formalisasi usaha melalui edukasi dan fasilitasi registrasi Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi Halal, PIRT dan pembukaan rekening bank.

Formalisasi usaha menjadi langkah penting bagi UMKM perempuan untuk meningkatkan kesiapan bisnis dan menjangkau pasar yang lebih luas. Kepemilikan NIB menjadi pintu masuk untuk mengurus perizinan lanjutan, mengakses program pemerintah dan layanan keuangan formal, serta memenuhi persyaratan kerja sama dengan calon pembeli.

Namun, proses formalisasi masih menjadi tantangan bagi sebagian pengusaha mikro perempuan akibat keterbatasan literasi digital, pemahaman mengenai persyaratan administrasi, serta waktu yang terbagi antara mengelola usaha dan tanggung jawab rumah tangga.

Dengan lokakarya Tumbuhkan Peluang, peserta memperoleh pendampingan langsung bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dalam pengurusan NIB, sehingga legalitas usaha dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan bisnis dan memanfaatkan peluang.

“Penguatan UMKM perempuan tidak cukup hanya dengan membuka akses pembiayaan. Mereka membutuhkan ekosistem yang membantu usaha menjadi lebih formal, mampu mengakses pasar lebih luas, sekaligus memiliki ketahanan dan kesehatan finansial. Melalui kolaborasi lintas sektor seperti ini, kami ingin memastikan lebih banyak perempuan pelaku UMKM di daerah tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga naik kelas dan mengubah potensi usahanya menjadi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di level akar rumput,” ujar Aria Widyanto, Head of Secretariat ICFH dan Chairman Amartha.org.

Melalui lokakarya ini, UMKM diperkenalkan dan berdiskusi langsung dengan calon mitra pasar lokal seperti Toko Oleh-Oleh Sri Rejeki, Toko Oleh–oleh Sal-Han, G.I (Gampiri Interaksi Lestari), dan Nina Agro Jaya.

Pertemuan ini turut memberi kesempatan bagi UMKM untuk memahami standar produk, menjajaki peluang kurasi, dan memperoleh umpan balik dari calon pembeli.

Peserta lokakarya didominasi UMKM di sektor pertanian dan pangan olahan, yang memiliki potensi untuk dikembangkan seiring besarnya kontribusi kedua sektor terhadap ekonomi Sulawesi Tengah.

Pada 2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat nilai tambah Rp67,96 triliun, sementara industri makanan dan minuman mencapai Rp7,24 triliun. Potensi ini membuka ruang bagi UMKM untuk memperluas pasar melalui penguatan kualitas produk dan pemahaman terhadap kebutuhan pembeli.

Eni Widiyanti, Asisten Deputi PUG BIdang Perekonomian, Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dan Pemerintah Daerah Wilayah,  “Pemberdayaan ekonomi perempuan tidak cukup hanya dengan meningkatkan keterampilan berusaha, tetapi juga harus memastikan perempuan memiliki akses yang setara terhadap pembiayaan, legalitas usaha, teknologi, dan pasar.

Masih banyak perempuan pelaku usaha mikro yang menghadapi keterbatasan akses informasi, jaringan pemasaran, serta tanggung jawab pengasuhan dan pekerjaan domestik. Melalui kegiatan Tumbuhkan Peluang, kami ingin mendorong agar perempuan pelaku UMKM tidak hanya mampu mempertahankan usahanya, tetapi juga memiliki kesempatan untuk naik kelas, memperluas pasar, dan meningkatkan kemandirian ekonominya.

Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan menjadi kunci untuk membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.”

Selain akses pasar, kesehatan finansial (financial health) menjadi landasan penting bagi keberlanjutan usaha. Bagi UMKM, hal ini mencakup kemampuan mengelola arus kas, memenuhi kebutuhan bisnis, menghadapi risiko keuangan, dan merencanakan pertumbuhan usaha. Dengan pengelolaan keuangan yang lebih baik, pertumbuhan bisnis diharapkan dapat turut memperkuat kesejahteraan perempuan dan keluarganya.

Desi Vicianna, Senior Policy Strategist, Southeast Asia, Women’s World Banking menuturkan, “Kesehatan finansial merupakan bagian penting dari pemberdayaan ekonomi perempuan.

Kegiatan hari ini akan dilanjutkan dengan pendampingan intensif oleh fasilitator lokal untuk membantu pengusaha mikro perempuan memperkuat praktik pengelolaan keuangan dan pengembangan usaha sehingga kemajuan usaha dapat berjalan beriringan dengan kesehatan finansial yang lebih kuat.”

Lewat lokakarya Tumbuhkan Peluang, ICFH bersama para mitra berharap koneksi yang terbentuk dapat berkembang menjadi kemitraan usaha yang berkelanjutan. Dengan menghubungkan kapasitas usaha, akses pasar, dan kesehatan finansial, semakin banyak perempuan UMKM diharapkan mampu memperluas peluang bisnis dan memperkuat ketahanan ekonomi.

Tentang Amartha Financial

Didirikan pada 2010 dan dikenal dengan brand “Amartha”, Amartha Financial (PT Amartha Financial Group beserta anak perusahaannya) menghadirkan layanan keuangan digital yang lengkap dan dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat serta UMKM perempuan di lebih dari 50.000 desa di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali Nusra, melalui aplikasi AmarthaFin.

Amartha Financial mencakup PT Amartha Mikro Fintek, pemegang lisensi pendanaan produktif; PT Amartha Warbler Finance, pemegang lisensi pembiayaan tunai, keduanya berizin dan diawasi oleh OJK; serta PT Amartha Finansial Asia, pemegang lisensi uang elektronik (dompet digital) yang berizin dan diawasi oleh Bank Indonesia.

Melalui AmarthaFin, pengguna dapat mengakses layanan pembiayaan modal kerja, pembayaran digital, PPOB, penyaluran zakat, serta fitur investasi yang menghubungkan masyarakat desa dengan investor nasional maupun global.

Hingga saat ini, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp 47 triliun modal usaha kepada lebih dari 4 juta UMKM perempuan, guna memperkuat kewirausahaan mikro, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di Indonesia.

Tentang ICFH

Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH) adalah inisiatif kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan pemerintah, sektor swasta, lembaga keuangan, fintech, organisasi masyarakat sipil, akademisi, investor, dan mitra global untuk memperkuat kesehatan finansial masyarakat akar rumput di Indonesia.

Diluncurkan pada 4 Juni 2026 dalam rangkaian The 2026 Asia Grassroots Forum, ICFH diinisiasi oleh Amartha bersama para mitra berfokus pada riset financial health, pengembangan dan inkubasi inovasi, penyusunan kerangka kerja bersama, serta kolaborasi lintas sektor untuk memberdayakan komunitas yang belum terlayani secara optimal (underserved), termasuk perempuan pengusaha UMKM dan petani kecil, guna mendorong kesejahteraan finansial yang berkelanjutan.

Tentang Women’s World Banking

Selama lebih dari 45 tahun, Women’s World Banking telah berdedikasi untuk melayani 700 juta perempuan yang belum terjangkau oleh sektor keuangan formal. Kami bermitra dengan lembaga keuangan dan pembuat kebijakan untuk merancang, mengembangkan, dan menerapkan solusi serta program yang mendorong perubahan sistemik bagi perempuan.

Sebagai investor, kami mendorong pemberdayaan perempuan, baik di tempat kerja maupun sebagai pelanggan, melalui ekuitas langsung untuk membantu memberikan keamanan, kesejahteraan, dan kemandirian bagi perempuan.

Sejak 2018, Women’s World Banking telah menjangkau lebih dari 118 juta perempuan dan 76 juta laki-laki, membantu mengubah tidak hanya kehidupan mereka, tetapi juga kehidupan keluarga, komunitas, dan negara mereka.

Pelajari lebih lanjut tentang bagaimana kami membuat layanan keuangan bekerja lebih baik bagi perempuan: www.womensworldbanking.org

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *