Bermula dari Lemparan Batu dan Petasan Hingga Motor Pelaku Diamankan
PALU, FILESULAWESI.COM – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMKN 2 Palu, Dr. Hernida Hi. Kone, S.Sos., MM., didampingi Wakasek Kurikulum, Wakasek Sarana dan Prasarana, Wakasek Kesiswaan Ramli serta Plh. Wakasek Bidang Kehumasan, menggelar konferensi pers bersama sejumlah awak media, Senin (24/8/2026) siang.
BACA JUGA: Disdukcapil Kota Palu Siapkan Layanan Jemput Bola
Konferensi pers tersebut digelar untuk memberikan penjelasan terkait peristiwa kericuhan yang terjadi di sekitar lingkungan SMKN 2 Palu pada Kamis (20/8/2026) hinga berlanjut Jumat (21/8/2026), yang sebelumnya ramai diberitakan dan beredar di media sosial.
BACA JUGA: Dinsos Kota Palu Apresiasi Pendampingan Kajari Lama, Sambut Kajari Baru
Dr. Hernida mengatakan, pihak sekolah menyayangkan adanya pemberitaan mengenai peristiwa tersebut, yang menurutnya tidak terlebih dahulu dikonfirmasi kepada pihak sekolah.
“Karena itu, kami perlu menjelaskan kronologis atau kejadian tersebut agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi,” ujar Kepsek Hernida kepada redaksi Filesulawesi.com, di ruang Wakasek SMKN 2 Palu.
Ia menjelaskan, peristiwa bermula pada Kamis (20/8/2026), saat sejumlah siswa SMKN 2 Palu keluar sekolah pada jam istirahat untuk melaksanakan salat di masjid yang berada tidak jauh dari sekolah.
Saat itu, tiba-tiba datang sekelompok orang yang menurut pihak sekolah diduga merupakan siswa, namun menggunakan jaket dan masker. Kelompok tersebut kemudian melakukan pelemparan batu dan petasan.
Akibat pelemparan petasan, salah seorang siswa SMKN 2 Palu menjadi korban. Selain itu, terdapat pula siswa yang mengalami pemukulan oleh orang yang belum diketahui identitasnya.
“Dari pelemparan petasan tersebut mengenai satu siswa kami. Selain itu, ada juga siswa kami yang terkena pukulan oleh oknum yang kami tidak kenal,” jelas Hernida.
Warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut kemudian turut membantu mengamankan situasi. Salah satu sepeda motor milik orang yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut tertinggal dan kemudian diamankan warga sebelum diserahkan kepada pihak sekolah.
Pihak sekolah selanjutnya berkoordinasi dengan pemerintah kelurahan, Babinsa, Polsek serta Polresta Palu, untuk menangani peristiwa tersebut.
Menurut Hernida, berdasarkan informasi awal yang diterima pihak sekolah, kejadian tersebut diduga berkaitan dengan peristiwa pada malam sebelumnya, ketika sejumlah siswa SMKN 2 Palu menjadi suporter dan meraih predikat sebagai suporter terbaik II.
Sementara itu, Wakasek Kurikulum SMKN 2 Palu, Mohammad Rauf, S.Kom., Gr., menjelaskan, persoalan kembali memanas pada Jumat (21/8/2026), setelah salat Jumat.
Saat itu, sekolah sedang menerima sejumlah tamu, termasuk orang tua siswa dan perwakilan perusahaan dari Jakarta. Dalam waktu bersamaan, terdapat dua orang yang tidak dikenal datang ke sekolah dan mengaku hendak melakukan legalisir ijazah.
Namun, menurut Rauf, kedua orang tersebut diduga justru hendak mengambil sepeda motor yang sebelumnya diamankan di lingkungan sekolah.
“Dua tamu yang mencurigakan ini masuk ke dalam lingkungan sekolah dengan mengelabui penjaga sekolah. Alasannya mau legalisir, padahal mau mengambil motor yang ditahan,” kata Rauf kepada redaksi awak media.
Ia mengatakan, situasi kemudian memanas setelah kedua orang tersebut diduga melakukan tindakan yang memicu reaksi siswa di dalam lingkungan sekolah.
“Maka keluarlah siswa kami melihat tamu itu. Ternyata dua orang tamu itu bukan siswa kami, bahkan bukan juga alumni SMKN 2 Palu,” ujarnya.
Menurut Rauf, kedua orang tersebut kemudian berusaha melarikan diri. Melihat hal itu, sejumlah siswa kemudian bereaksi terhadap sepeda motor yang diduga berkaitan dengan kedua orang tersebut.
“Disitulah siswa kami melampiaskan ke motor. Namun tidak lama kejadian itu karena kami langsung menelepon pihak kepolisian,” jelasnya.
Sementara itu, Wakasek Sarana dan Prasarana SMKN 2 Palu, Fajrin Indriani Rais, S.ST., M.Pd., mengungkapkan bahwa dirinya mengetahui kejadian tersebut setelah selesai melaksanakan salat.
“Saat itu kami habis salat (pada hari Kamis). Setelah salat saya mendengar memang ada petasan. Kami langsung keluar dari masjid dan melihat ada siswa yang berdarah,” katanya menjelaskan.
Langkah pertama yang dilakukan pihak sekolah, kata Fajrin, adalah mengamankan siswa yang menjadi korban dan membawanya ke ruangan Wakasek, untuk mendapatkan penanganan awal.
Setelah ditanyakan, korban mengaku dipukul ketika hendak mengambil air wudu untuk melaksanakan salat. Pada saat itu, terlihat sekelompok pengendara sepeda motor yang jumlahnya diperkirakan hampir 12 unit.
“Salah satu pemilik motor mungkin dalam keadaan panik sehingga motornya tertinggal. Motor yang ketinggalan di luar kemudian diamankan warga dan dibawa masuk ke lingkungan sekolah,” jelasnya.
Pihak sekolah kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Palu dengan membawa sejumlah barang bukti, termasuk kunci motor dan telepon seluler yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Fajrin menjelaskan, pihak sekolah tidak langsung membawa sepeda motor yang diamankan ke Polresta Palu karena mempertimbangkan risiko dan keamanan.
“Kami diperiksa sampai sekitar pukul 19.00 WITA malam. Pihak kepolisian kemudian meminta guru membawa motor tersebut, tetapi pihak guru tidak berani membawa motor karena mempertimbangkan risiko,” ungkap Fajrin kembali.
Menanggapi keseluruhan kejadian tersebut, Plt Kepala SMKN 2 Palu Dr. Hernida Hi. Kone menegaskan, bahwa pihak sekolah menyerahkan proses penanganan kepada aparat kepolisian.
“Karena peristiwa ini sudah ditangani oleh pihak kepolisian, maka biarlah pihak kepolisian yang menyelesaikan,” tegasnya.
Hernida mengatakan, pihak sekolah juga akan melakukan evaluasi internal terhadap berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekolah.
Sebagai langkah awal, SMKN 2 Palu menerapkan pembelajaran secara daring pada Senin (24/8/2026).
“Selaku kepala sekolah dan pengambil kebijakan, yang pertama kami juga melakukan evaluasi terhadap apa yang terjadi selama ini di sekolah,” kata Dr Hernida.
Selain evaluasi internal, pihak sekolah juga akan berkoordinasi dengan kepala sekolah tingkat SMA dan SMK, untuk bersama-sama melakukan pembinaan dan pendisiplinan terhadap siswa.
“Kami akan koordinasi dengan seluruh kepala sekolah, baik kepala sekolah tingkat SMA maupun SMK. Sesuai informasi yang kami terima, ada beberapa siswa mereka yang masuk dalam kategori oknum. Koordinasi ini tentu untuk mendisiplinkan anak-anak mereka, begitu juga kami,” jelas Hernida.
Ia menegaskan, persoalan tersebut merupakan tanggung jawab bersama dan pihak sekolah tidak ingin menyudutkan pihak tertentu.
“Ini merupakan tanggung jawab bersama. Tidak ada yang perlu disalahkan karena ini murni terjadi karena refleks siswa,” pungkasnya.zal










