Ayah Korban Kekerasan di Untad Palu: Anak Saya Sudah Takut Kembali ke Kampus

Marsel (dua dari kiri), Ayah korban mahasiswa. FOTO: Mohammad Rizal/Filesulawesi.com

PALU, FILESULAWESI.COM – Orang tua bersama tiga mahasiswa yang mengaku menjadi korban kekerasan fisik dan dugaan pelecehan oleh senior di lingkungan Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) Palu, mendatangi Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Sulteng, Kamis (8/10/2026) siang.

BACA JUGA: Ijazah Wapres Gibran Jadi Polemik di Masyarakat, Dian Sandi Tegaskan Hal Ini

Bacaan Lainnya

Kedatangan ketiga korban dan orang tua mereka didampingi kuasa hukum, Jonathan Salam, MH. Mereka diterima Ketua LBH Sulteng Ulianer Aditia Warman bersama jajaran tim LBH Sulteng.

BACA JUGA: Pemkot Palu Terima Anugerah Prakarsa Inklusi dari KND RI

Pertemuan tersebut dilanjutkan dengan konferensi pers yang dihadiri sejumlah awak media. Dalam kesempatan itu, pihak keluarga korban menyampaikan kondisi yang dialami mahasiswa pascakejadian yang diduga melibatkan sejumlah senior atau kakak tingkat di lingkungan Fakultas Teknik Untad Palu.

Marsel, ayah Herman, salah satu mahasiswa yang disebut menjadi korban pengeroyokan dan pemukulan, mengungkapkan bahwa kondisi anaknya hingga kini masih mengalami trauma.

Menurutnya, Herman merasa tidak aman untuk kembali beraktivitas di lingkungan kampus, khususnya di Fakultas Teknik Untad yang sebelumnya menjadi fakultas yang dibanggakan anaknya.

“Anak saya saat ini merasa tidak aman lagi berada di lingkungan kampus, khususnya di Fakultas Teknik. Sebenarnya Fakultas Teknik merupakan fakultas kebanggaan dia. Akan tetapi karena peristiwa yang dia alami, pengereyokan itu, dia mengalami trauma dan takut untuk ke kampus,” ujar Marsel kepada redaksi Filesulawesi.com, di ruang pertemuan Kantor LBH Sulteng, Kamis (8/10/2026).

Ia mengatakan, Herman sampai saat ini belum berani kembali ke kampus karena masih mengalami trauma akibat kejadian tersebut.

“Jadi kondisi anak saya ini lagi trauma dan dia tidak ingin lagi ke kampus sampai saat ini. Jadi, ini yang menjadi kondisi anak saya saat ini,” kata Marcel dengan lantang.

Marsel mengaku kecewa dengan peristiwa yang dialami anaknya. Sebagai orang tua, ia berharap persoalan tersebut dapat segera ditangani secara serius oleh pihak terkait.

“Yang kedua dari pernyataan saya sebagai orang tua, sangat disayangkan, sangat kecewa dengan situasi yang terjadi,” ujarnya.

Ia mengatakan, pihak keluarga menyerahkan proses pendampingan hukum kepada LBH Sulteng dan kuasa hukum yang mendampingi ketiga korban.

Marsel juga meminta Fakultas Teknik maupun pihak Universitas Tadulako Palu, segera memberikan klarifikasi dan mengambil langkah penyelesaian agar persoalan tersebut tidak semakin berlarut-larut.

“Kakak-kakak tingkat yang menganiaya anak saya ini perlu ditindak tegas,” tegasnya.

Selain meminta tindakan tegas, keluarga korban juga berharap pihak kampus dapat memfasilitasi mediasi dengan keluarga para korban.

Namun, menurut Marsel, hingga saat ini belum ada komunikasi maupun mediasi dari pihak kampus dengan keluarga terkait kejadian kekerasan yang dialami anaknya.

“Harapan kami supaya peristiwa ini segera diselesaikan. Karena itu tadi, anak saya sudah bertekad karena ketakutannya dia sudah tidak mau lagi ke kampus. Kami minta pihak kampus yang bisa selesaikan secepat mungkin,” tuturnya.

Diakhir keterangannya ia berharap kembali, kondisi psikologis anaknya dapat segera membaik sehingga Herman kembali merasa aman dan dapat melanjutkan aktivitas perkuliahan seperti sebelumnya.

“Moga-moga trauma anak saya ini bisa kembali pulih dan tidak merasa trauma lagi,” pungkasnya.zal

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *