Kuasa Hukum Soroti Narasi Pemicu Kekerasan terhadap Tiga Mahasiswa Untad Palu

Keterangan pers dari Kuasa Hukum Korban, Jonathan Salam. FOTO: Mohammad Rizal/Filesulawesi.com

PALU, FILESULAWESI.COM – Kuasa hukum tiga mahasiswa yang mengaku menjadi korban kekerasan fisik dan dugaan pelecehan oleh senior di Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) Palu, Jonathan Salam, menyoroti narasi yang menyebut tindakan kekerasan terhadap korban dipicu karena ketiganya menggunakan telepon seluler saat jam perkuliahan.

BACA JUGA: Dekan Teknik Untad Palu Bantah Dosen FJ Ancam Orang Tua Korban

Bacaan Lainnya

Keterangan tersebut disampaikan Kuasa Hukum Jonathan Salam, kepada sejumlah awak media dalam jumpa pers di Kantor LBH Sulteng, Kamis (8/10/2026) siang.

BACA JUGA: Ayah Korban Kekerasan di Untad Palu: Anak Saya Sudah Takut Kembali ke Kampus

Jonathan menilai, alasan tersebut tidak dapat disamakan dengan tindakan kekerasan yang diduga dialami ketiga mahasiswa. Menurutnya, penggunaan telepon seluler saat perkuliahan merupakan persoalan kedisiplinan yang semestinya diselesaikan melalui mekanisme akademik, bukan dengan tindakan kekerasan.

“Ada yang menarik dari perhatian saya. Ada menurut saya narasi yang seolah-olah sesat. Dia menyatakan begini, penyebab pengeroyokan karena ketiga korban ini memang salah, karena main handphone di saat jam kuliah dan berlaku kurang ajar,” ujar Jonathan kepada redaksi Filesulawesi.com.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak sebanding apabila dibandingkan dengan tindakan yang diduga dilakukan oleh para senior terhadap ketiga korban.

“Ini tidak apple to apple ketika dibandingkan perbuatan pelaku dengan perbuatan korban yang main HP di dalam ruangan, sebagai perbuatan yang setara,” katanya menjelaskan.

Jonathan menjelaskan, berdasarkan video yang diperlihatkan dalam jumpa pers, ketiga mahasiswa tersebut sebelumnya telah mendapat teguran maupun sanksi dari dosen berinisial FJ.

“Adik-adik ini, ketiga korban, sudah mendapat hukuman. Dari video yang ditampilkan tadi, dosen dengan inisial FJ ini sudah mengeluarkan mereka, sudah memberikan sanksi kepada mereka. Harusnya perkara clear,” ungkapnya.

Namun, ia mempertanyakan mengapa setelah pemberian sanksi tersebut kemudian muncul dugaan tindakan penganiayaan terhadap ketiga mahasiswa.

“Akan tetapi menjadi pertanyaan, kenapa muncul aksi penganiayaan, kemudian narasi penganiayaan itu karena perbuatan mereka membuat menangis oknum dosen FJ,” ujarnya.

Jonathan juga menanggapi pernyataan dosen berinisial FJ, yang sebelumnya membantah keterlibatan dalam aksi kekerasan tersebut.

Menurut Jonathan, pihaknya menghormati hak yang bersangkutan untuk memberikan klarifikasi. Namun, ia meminta publik dan aparat penegak hukum mencermati video yang beredar.

“Kemarin juga ada pernyataan oknum dosen FJ membantah. Saya kira itu pun haknya. Kami pun tidak menuduh. Cuma dari video yang beredar, silakan teman-teman media, netizen, warga masyarakat yang menilai,” kata Jonathan Salam.

Ia kemudian menyoroti pernyataan dalam video yang menurutnya perlu diperjelas maksud dan konteksnya.

“Bunyinya, ‘Saya tidak minta mereka dipukul, saya cuma bilang kasih pelajaran.’ Apa maksud dari frasa itu?” kata Jonathan bertanya.

Menurutnya, pernyataan tersebut menjadi salah satu hal yang perlu didalami untuk mengetahui apakah terdapat dugaan pembiaran atau tindakan lain, yang berkaitan dengan terjadinya kekerasan terhadap ketiga korban.

“Jadi, ada indikasi dugaan pembiaran, provokasi dan memang sengaja digerakkan sampai terjadi aksi-aksi itu,” ujarnya.

Jonathan juga menyoroti adanya pernyataan dalam video mengenai kejadian serupa yang disebut pernah dialami mahasiswa lain.

“Perlu digarisbawahi pernyataan di situ, ada ‘kenek-kenek’ yang lain yang sudah pernah dialami seperti ini, ini adalah hal yang biasa,” ucap Jonathan meniru pernyataan yang ada di dalam vidio.

Menurut Jonathan, jika benar terdapat praktik kekerasan yang dianggap sebagai hal biasa di lingkungan kampus, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius.

“Kami khawatir jangan sampai hal-hal yang berbau kekerasan, premanisme, itu menjadi hal yang biasa di dalam lingkungan akademik,” tegasnya.

Olehnya itu Ia menekankan, bahwa lingkungan perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang untuk membentuk mahasiswa menjadi lulusan yang memiliki intelektualitas sekaligus moral dan akhlak yang baik.

“Kita harus menciptakan, melahirkan lulusan-lulusan yang intelektual dan berakhlak moral yang baik. Kalau begini jadinya menjadi standar kebiasaan dalam situasi lingkungan akademik, maka kami khawatir lingkungan kampus yang sama-sama kita cintai ini tidak lagi kondusif dalam membangun pendidikan yang baik,” katanya.

Jonathan berharap, kasus dugaan kekerasan tersebut terus dikawal oleh semua pihak agar tidak terjadi pembiaran dan dapat diungkap secara terang.

“Saya harap kasus ini terus dikawal agar tidak terjadi pembiaran,” pungkasnya.zal

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *