Kepsek Yusri: Kesehatan Siswa Jadi Skala Prioritas
PALU, FILESULAWESI.COM – Kepala SMP Negeri 1 Palu, Yusri, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau pembelajaran daring, yang diterapkan berdasarkan arahan Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid.
BACA JUGA: Program Berani Bedah Rumah Raih Penghargaan Nasional
Menurut Yusri, kebijakan tersebut perlu dipahami bersama karena berkaitan dengan upaya menjaga kesehatan peserta didik di tengah kondisi kualitas udara Kota Palu yang kurang baik.
BACA JUGA: Operasi Patuh Tinombala Dimulai 26 Oktober hingga 8 November 2026
Pihak sekolah pun telah menyosialisasikan kebijakan tersebut kepada orang tua dan siswa, agar proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap berjalan meskipun dilaksanakan dari rumah.
“Alhamdulillah, sejauh ini keluarga besar SMP Negeri 1 Palu tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar melalui daring,” ungkap Yusri kepada redaksi Filesulawesi.com saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (27/10/2026).
Ia mengatakan, orang tua siswa cukup memahami kebijakan tersebut karena adanya kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan masyarakat, khususnya gangguan pernapasan yang dialami sejumlah pasien.
“Orang tua sangat paham dengan kondisi karena ada fakta yang tidak bisa dibantah. Saat ini banyak anak-anak kita atau pasien-pasien yang berada di rumah sakit terkena ISPA dan gangguan kesehatan pernapasan,” ujar Kepsek Yusri.
Meski demikian, Yusri mengakui pihak sekolah juga menerima masukan dari sejumlah orang tua yang menginginkan anak-anak mereka kembali belajar di sekolah. Hal itu tidak terlepas dari perbedaan efektivitas antara pembelajaran daring dan pembelajaran tatap muka.
Menurutnya, pengalaman pembelajaran jarak jauh selama pandemi Covid-19, menjadi bekal bagi pihak sekolah untuk melaksanakan pembelajaran daring saat ini.
Dengan komunikasi yang terjalin baik antara sekolah dan orang tua, pelaksanaan pembelajaran daring di SMPN 1 Palu sejauh ini dapat berlangsung cukup baik dan diupayakan secara optimal.
Kehadiran Siswa Tetap Dipantau
Kepsek Yusri menjelaskan, meskipun pembelajaran dilaksanakan dari rumah, sekolah tetap melakukan pemantauan terhadap kehadiran siswa. Absensi menjadi salah satu bahan evaluasi bagi guru untuk mengetahui keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Apabila terdapat siswa yang tidak mengikuti pembelajaran daring, guru akan menghubungi siswa atau orang tua untuk mencari tahu penyebab ketidakhadiran tersebut.
Kendala yang paling sering dihadapi siswa, kata dia, berkaitan dengan keterbatasan paket data internet dan pemadaman listrik di sejumlah wilayah.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, guru memberikan tugas alternatif bagi siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran secara daring akibat gangguan jaringan, keterbatasan kuota internet, maupun kendala mendasar lainnya.
Tugas dapat dikumpulkan melalui grup WhatsApp atau dikirimkan secara langsung melalui pesan pribadi kepada guru yang bersangkutan.
“Ketika anak-anak tidak hadir, guru mencoba menanyakan dan mencari tahu kenapa mereka tidak hadir. Jika terkendala jaringan, paket data, atau alasan mendasar lainnya, guru akan memberikan tugas,” jelasnya.
Jadwal Belajar Tetap Seperti di Sekolah
Dalam pelaksanaan PJJ, SMPN 1 Palu tetap menerapkan jadwal pembelajaran sebagaimana kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah.
Kegiatan belajar dimulai pukul 07.30 Wita hingga pukul 15.00 Wita, sedangkan khusus hari Jumat berakhir pukul 11.00 Wita.
Yusri menjelaskan, jadwal tersebut dipertahankan agar waktu siswa selama berada di rumah tetap terisi dengan kegiatan yang produktif dan terarah.
“Stay di rumah itu adalah harapan kami. Karena itu, imbauan kami kepada orang tua agar anak-anak sebaiknya tetap di rumah dan tidak keluar, kecuali untuk alasan yang sangat mendesak,” katanya.
Meski jadwal tetap sama, materi pembelajaran disesuaikan dan divariasikan agar siswa tidak merasa jenuh selama mengikuti kegiatan belajar dari rumah.
Dalam pelaksanaannya, para guru tetap menjalankan kewajiban mengajar. Sebagian besar guru melaksanakan pembelajaran daring dari sekolah, meskipun ada beberapa guru yang setelah datang ke sekolah meminta izin untuk melanjutkan kegiatan dari rumah karena keperluan tertentu.
Yusri menegaskan, perubahan lokasi mengajar tersebut tidak mengurangi kewajiban guru dalam memberikan pembelajaran kepada siswa.
Akui Tatap Muka Lebih Efektif
Kendati berupaya memaksimalkan pembelajaran daring, Yusri mengakui metode tersebut belum seefektif pembelajaran tatap muka di sekolah.
Menurutnya, interaksi langsung antara guru dan siswa sangat penting untuk memastikan materi pelajaran dipahami dengan baik. Melalui pembelajaran tatap muka, guru juga lebih mudah memantau pengerjaan tugas, memberikan penjelasan, serta membangun komunikasi dan hubungan emosional dengan siswa.
“Pembelajaran luring atau tatap muka lebih efektif menurut saya karena ada hubungan emosional dalam proses pembelajaran. Penjelasan materi, diskusi antarsiswa, dan proses pembelajarannya lebih efektif dibandingkan pembelajaran daring. Namun, tetap kami melakukannya seoptimal mungkin,” pungkasnya.
Yusri berharap, para siswa dan orang tua dapat terus bekerja sama dengan pihak sekolah agar proses pendidikan tetap berlangsung dengan baik, sekaligus mendukung upaya menjaga kesehatan anak-anak selama kebijakan pembelajaran dari rumah diterapkan.zal








