Syam Zaini
Ketua PGRI SulTeng
FILESULAWESI.COM – Ada masa ketika sosok guru berdiri sebagai figur yang disegani, bukan karena kekuasaan, tapi karena kewibawaannya.
BACA JUGA: Sekdis Pendidikan Sulteng, Syam Zaini: Arahan Gubernur Pembenahan dan Akurasi Data Pendidikan
Setiap nasihatnya dihormati, setiap tegurannya diterima sebagai bentuk kasih sayang yang mendidik. Namun kini, dunia pendidikan seperti terbalik.
BACA JUGA: Pesan Syam Zaini Kepada Ketua PGRI Kota Palu Terpilih Periode 2025-2030
Murid-murid semakin berani menantang, sementara banyak guru justru menahan diri untuk menegakkan disiplin. Bukan karena mereka tak peduli, tapi karena takut disalahkan, diadukan, atau bahkan dipermalukan oleh sistem dan lingkungan yang tak lagi berpihak pada nilai moral.
Perubahan ini bukan sekadar soal perilaku murid atau kebijakan sekolah, tapi soal hilangnya keseimbangan antara otoritas dan empati, antara tanggung jawab dan ketakutan.
Ketika guru kehilangan keberanian untuk menegakkan aturan, maka pendidikan kehilangan maknanya. Sekolah berubah dari ruang pembentukan karakter menjadi tempat di mana kebenaran harus disesuaikan agar tidak menyinggung siapa pun.
1. Hilangnya wibawa guru karena salah tafsir tentang “kebebasan”
Kita hidup di zaman ketika kebebasan sering disalahartikan sebagai kebal terhadap aturan. Banyak murid merasa berhak melakukan apa pun atas nama ekspresi diri, tanpa memahami batas tanggung jawab di baliknya. Ironisnya, ketika guru mencoba menegur, mereka justru dianggap mengekang atau tidak memahami “generasi baru.” Padahal, disiplin bukan musuh kebebasan — ia justru pondasinya. Tanpa disiplin, kebebasan berubah jadi kekacauan.
Wibawa guru bukan lahir dari ketakutan murid, tapi dari penghormatan yang dibangun lewat ketegasan dan konsistensi. Namun, ketika guru dibungkam oleh tekanan sosial dan birokrasi, mereka kehilangan ruang untuk menjadi pendidik sejati. Yang tersisa hanyalah pengajar — menjalankan kurikulum tanpa bisa menanamkan nilai moral.
2. Ketika dunia lebih peduli pada “image” daripada karakter
Banyak lembaga pendidikan kini terobsesi dengan citra: sekolah yang “ramah,” lingkungan yang “bebas tekanan,” atau suasana yang “selalu positif.” Tapi terlalu sering, semua itu hanya kemasan kosong. Karena di balik slogan manis itu, banyak sekolah yang tidak berani menegakkan aturan secara tegas demi menjaga reputasi. Akibatnya, anak-anak tumbuh tanpa pemahaman tentang batasan, tanpa rasa hormat terhadap proses.
Karakter tidak terbentuk dari kenyamanan, melainkan dari ketegasan dan konsekuensi. Jika setiap kesalahan dibiarkan atas nama menjaga perasaan, maka anak-anak belajar bahwa mereka bisa lolos dari tanggung jawab. Dunia nyata tidak bekerja seperti itu. Dan ketika mereka akhirnya masuk ke dunia kerja atau masyarakat, mereka akan kaget: tidak ada lagi guru yang menoleransi perilaku tanpa disiplin.
3. Guru kini hidup di bawah bayang-bayang ketakutan
Guru zaman sekarang bukan tidak peduli, tapi takut. Takut dilaporkan oleh orang tua, takut dipermasalahkan oleh sekolah, bahkan takut kehilangan pekerjaan karena dianggap “terlalu keras.” Padahal dulu, guru adalah tiang moral yang berani berkata benar walau tidak populer.
Sekarang, mereka harus menimbang setiap kata agar tidak dianggap melanggar hak murid. Dunia yang dulu menghormati pendidik, kini menuntut mereka berjalan di atas tali tipis antara kebenaran dan kepatuhan administratif.
Akibatnya, banyak guru memilih diam. Mereka melihat kesalahan, tapi tidak menegur. Mereka tahu murid butuh disiplin, tapi memilih mengalah. Karena dalam sistem yang tidak melindungi integritas, keberanian menjadi sesuatu yang berisiko.
Padahal, jika tidak ada lagi yang berani menegakkan nilai, maka pendidikan hanya akan melahirkan generasi cerdas secara akademis tapi lemah secara moral.
4. Murid kehilangan rasa takut yang sehat
Rasa takut yang sehat adalah bagian penting dari pendidikan. Takut berbuat salah karena sadar akan akibatnya. Takut mengecewakan guru karena menghormati perannya.
Tapi kini, rasa takut itu hilang, digantikan oleh sikap masa bodoh dan keberanian yang salah arah. Banyak murid merasa lebih kuat dari gurunya karena dukungan media sosial, aturan yang longgar, atau orang tua yang terlalu protektif.
Tanpa rasa hormat dan batas, pendidikan berubah jadi permainan ego. Murid menantang, guru menahan diri, dan nilai moral perlahan menghilang. Rasa takut yang sehat seharusnya tidak dihapus, tapi diarahkan. Karena di situlah letak keseimbangan antara kebebasan berpikir dan tanggung jawab berperilaku.
5. Ketika aturan tak lagi ditegakkan, masa depan jadi taruhan
Sebuah generasi yang tumbuh tanpa batasan akan kesulitan menghadapi dunia nyata. Jika di sekolah mereka bisa melanggar aturan tanpa konsekuensi, maka di kehidupan nyata mereka akan sulit menerima kegagalan dan kritik.
Disinilah pendidikan kehilangan misinya: bukan lagi mendidik manusia tangguh, tapi membesarkan individu rapuh yang tak siap dengan realitas.
Guru yang tidak berani menegakkan aturan sebenarnya bukan hanya melindungi dirinya, tapi tanpa sadar sedang menjerumuskan muridnya.
Karena setiap ketidakdisiplinan yang dibiarkan hari ini, akan menjadi kebiasaan buruk yang sulit diubah nanti. Dan ketika hal itu sudah menjadi budaya, bangsa pun kehilangan arah moralnya.
Kita tidak butuh lebih banyak guru yang menyenangkan — kita butuh lebih banyak guru yang berani. Karena pendidikan sejati bukan tentang membuat murid nyaman, tapi tentang menyiapkan mereka menghadapi kenyataan hidup. Guru yang tegas bukan musuh, tapi penjaga agar generasi berikutnya tidak tersesat.
Jika dulu murid takut melanggar aturan karena tahu ada konsekuensi, kini sudah waktunya masyarakat takut kehilangan guru yang berani menegakkannya. Karena tanpa guru yang berani, aturan hanyalah tulisan di dinding, dan pendidikan hanyalah formalitas tanpa jiwa.
Yang kita butuhkan bukan sistem yang lembut, tapi keberanian moral untuk mengatakan: benar tetap benar, salah tetap salah.
Dari berbagai sumber. (***)






