Pemicu Kebakaran Juga Diakibatkan Buang Puntung Rokok Sembarangan
PALU, FILESULAWESI.COM – Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang masih cukup tinggi sepanjang 2026.
BACA JUGA: Kuasa Hukum Rafiq Al Amri Soroti Kontradiksi Pertimbangan Hakim
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kehutanan Sulteng, Susanto Wibowo, kepada sejumlah awak media, di ruangannya, Selasa (8/9/2026).
BACA JUGA: Keadilan Akan Dibuktikan di Pokok Perkara
Kadis Susanto mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan seluruh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), untuk meningkatkan kesiagaan terhadap potensi Karhutla di wilayah masing-masing.
Menurut Kadis Susanto, berdasarkan data aplikasi Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan, luas kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Tengah yang terakumulasi sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 3.138,08 hektare.
“Itu termasuk sangat tinggi dan masuk nomor 13 se-Indonesia. Makanya kita di Sulteng termasuk dalam kategori menengah. Bahkan kemarin kita pernah masuk di 10 besar, alhamdulillah ada penurunan,” ujar Susanto kepada redaksi Filesulawesi.com.
Untuk mengantisipasi meluasnya Karhutla, Dinas Kehutanan Sulteng memperkuat koordinasi bersama KPH, Kementerian Kehutanan, Polisi Kehutanan (Polhut), penyuluh kehutanan, serta Masyarakat Peduli Api (MPA).
Susanto menyebutkan, pihaknya juga telah membentuk Manggala Agni di seluruh KPH, sebagai bagian dari upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.
“Bersama dengan teman-teman KPH, kerja sama dengan tim dari Kementerian Kehutanan, teman-teman Polhut, dinas maupun penyuluh serta MPA. Jadi, Dinas Kehutanan ini sudah membentuk Manggala Api di semua KPH,” kata Susanto menjelaskan.
Selain personel, setiap KPH juga telah diperkuat dengan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) dan sejumlah peralatan sederhana untuk mendukung penanganan Karhutla.
Peralatan tersebut antara lain berupa alat semprot tangan, pakaian anti api dan sepatu yang telah diserahkan kepada jajaran KPH.
“Kita sampaikan bahwa tekad teman-teman di lapangan sangat antusias dalam menanggulangi kebakaran. Khususnya penanganan yang lagi sedang marak di Dampelas-Tinombo,” jelasnya.
Saat ini, kata Susanto, tim gabungan yang terdiri dari Polhut, penyuluh, Kementerian Kehutanan dan masyarakat peduli api masih melakukan pemadaman kebakaran di wilayah Dampelas-Tinombo.
Penanganan serupa juga dilakukan di wilayah KPH yang berada di Ampana.
Kadis Susanto mengungkapkan, sejumlah wilayah yang saat ini memiliki potensi dan tingkat kebakaran cukup tinggi di Sulteng antara lain Dampelas-Tinombo, Ampana, Poso, KPH TPA Aroa Morowali Utara, serta KPH Balantak.
“Itu yang saat ini data yang memberikan kebakaran hutan yang cukup tinggi di antara unit kami di UPT Dinas Kehutanan Sulteng,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, salah satu faktor utama pemicu Karhutla adalah musim kemarau yang cukup panjang. Selain itu, pembukaan dan pembersihan lahan dengan cara dibakar juga menjadi salah satu penyebab kebakaran.
Karena itu, masyarakat diimbau menghindari pembakaran ketika membuka lahan, khususnya pada musim kemarau.
“Kepada masyarakat perlu disosialisasi kalau membuka lahan di musim kemarau sebaiknya dihindari pembakaran,” pintanya.
Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan karena dapat menjadi sumber api, terutama di kawasan perkebunan yang berdekatan atau berbatasan dengan kawasan hutan.
“Selain itu, pemicu terjadinya kebakaran ialah masyarakat hindari membuang puntung rokok. Selesai merokok, matikan, jangan dibuang sembarangan. Walaupun itu di wilayah perkotaan, pedesaan, apalagi di wilayah perkebunan yang mendekati atau perbatasan hutan,” tegasnya.
Dampak Karhutla, lanjut Susanto, tidak hanya terjadi di kawasan hutan, tetapi juga telah menyasar lahan-lahan produktif milik masyarakat.
“Kebakaran yang melanda di Sulawesi Tengah terkena juga lahan-lahan produktif, lahan masyarakat misalnya perkebunan dan sebagian besar tanaman pinus di daerah Sintuwu Maroso, Kabupaten Poso,” ungkapnya.
Selain luas lahan terbakar yang cukup besar, Dinas Kehutanan juga mencatat masih terdapat sekitar 1.300 titik panas (hotspot) yang aktif hingga Agustus 2026.
Sementara di Kota Palu, titik kebakaran terpantau berada di sekitar kawasan Poboya.
Penanganan di wilayah tersebut dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan tim dari Pangdam, Kementerian Kehutanan, BPBD dan Dinas Kehutanan Sulteng.
“Kemarin bersama dengan tim Pangdam, Kementerian Kehutanan, BPBD dan tim dari Dinas Kehutanan bersama-sama melakukan pemadaman di lapangan,” tutup Kadis Susanto.zal







