Pelaku Usaha Asal Minang Dibekali Strategi Bisnis Berusaha dan Pengelolaan Keuangan

Dewan Penasihat IKM Sulawesi Tengah, Zalzulmida Djanggola, saat diwawancari sejumlah awak media. FOTO: Mohammad Rizal/Filesulawesi.com

PALU, FILESULAWESI.COM – Ikatan Keluarga Minang (IKM) Provinsi Sulawesi Tengah menggelar Pelatihan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan daya saing para pelaku usaha (keluarga minang), agar mampu membangun bisnis yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.

BACA JUGA: Dinas Perkimtan Sulteng Luncurkan Program BERANI MOSIBAGI

Bacaan Lainnya

Hal ini diutarakan langsung Dewan Penasihat IKM Sulawesi Tengah, Zalzulmida Djanggola, kepada sejumlah awak media, dilokasi pelatihan bertempat di Rumah Gadang, Kota Palu, Sabtu (18/7/2026).

BACA JUGA: Wakil Gubernur Sulteng Tinjau Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Morowali

Zalzulmida Djanggola mengatakan, pelatihan tersebut merupakan bentuk kepedulian organisasi terhadap masyarakat Minang yang mayoritas berprofesi sebagai pedagang.

Menurutnya, semangat berwirausaha yang dimiliki masyarakat perlu didukung dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan, agar usaha yang dijalankan dapat terus berkembang.

“Alhamdulillah, masyarakat Minang pada umumnya berdagang. Karena itu mereka perlu diberikan ilmu agar usaha yang dijalankan bisa berkembang. Sebagai dewan penasihat, kami berupaya agar mereka memperoleh pelatihan yang dibutuhkan,” ujar Zalzulmida kepada redaksi Filesulawesi.com.

Ia menjelaskan, pelaksanaan pelatihan tersebut dapat terlaksana berkat dukungan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank Sulteng.

Melalui program itu, sebanyak 80 pelaku UMKM asal Minang mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan yang menghadirkan berbagai materi penting untuk pengembangan usaha.

“Alhamdulillah, Bank Sulteng memberikan kesempatan melalui dana CSR. Dengan dukungan tersebut kami dapat memberikan pelatihan beserta materi-materi yang memang sangat dibutuhkan oleh para pelaku usaha,” katanya menambahkan.

Menurut Zalzulmida, selama ini masyarakat Minang yang tinggal di Kota Palu dan wilayah Sulawesi Tengah, telah menunjukkan kreativitas dan inisiatif dalam berdagang.

Namun, mereka masih membutuhkan pendampingan mengenai metode menjalankan usaha yang lebih efektif, mulai dari strategi pemasaran hingga pengelolaan bisnis secara profesional.

Ia menilai, perkembangan teknologi digital menuntut pelaku UMKM untuk mampu memasarkan produk secara lebih luas. Memperbaiki kemasan agar lebih menarik, memahami klasifikasi usahanya, hingga mengelola keuangan dengan baik.

“Yang sering terjadi, modal usaha dan hasil penjualan masih bercampur sehingga pencatatan keuangan belum tertib secara akuntansi. Hal-hal seperti inilah yang akan kami berikan selama dua hari pelatihan,” jelasnya menjelaskan.

Selain menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi Universitas Tadulako (Untad) Palu yang memberikan materi mengenai pengelolaan keuangan sederhana, IKM Sulteng juga melibatkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk memberikan informasi terkait akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Menurut Zalzulmida, akses permodalan dan kemampuan mengelola keuangan menjadi faktor penting bagi pelaku usaha, baik yang baru merintis maupun yang telah lama menjalankan bisnis.

Ia juga menekankan pentingnya inovasi dalam pengemasan produk. Menurutnya, tampilan produk yang menarik akan meningkatkan daya saing sekaligus memberikan nilai tambah di pasar.

“Pelaku usaha harus bisa mengemas produknya lebih cantik agar menarik perhatian pembeli. Dengan tampilan yang baik, konsumen dari luar daerah pun bisa tertarik membeli, bahkan hanya melalui promosi atau pemesanan lewat telepon maupun media digital,” ungkapnya.

Diakhir keterangannya, Zalzulmida berharap, pelatihan seperti ini dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak pelaku UMKM yang memperoleh pembinaan.

Ia optimistis, melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pelaku usaha di Sulawesi Tengah tidak lagi hanya mengandalkan cara-cara konvensional, tetapi mampu menghadirkan produk dengan kemasan yang lebih profesional dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasaran.

Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara Rudi Zulkarnain, menambahkan, bahwa diakuinya dari 80 peserta pelaku usaha terdiri dari pelaku usaha pemula serta ada yang sudah lama berusaha dan kesemuanya mendapatkan pelatihan dan pembinaan selama dua hari lamanya.

“Agar mereka benar-benar nantinya bisa mereka mengelola keuangan (jangan dicampur aduk uang pribadi dan uang bisnis). Ini semua yang kita bekali kepada mereka dengan mentor langsung Akuntan dari Untad Palu,” pungkasnya.zal

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *