Bertahan di Posisinya

Ketua PGRI Sulteng periode 2024-2029 terpilih Syam Zaini, S.Pd, M.Pd
Ketua PGRI Sulteng periode 2024-2029 terpilih Syam Zaini, S.Pd, M.Pd. FOTO : Mohammad Rizal/FileSulawesi.com

Oleh : Syam Zaini
Ketua PGRI SulTeng

FILESULAWESI.COM – “Kereta api yang sedang berhenti akan berat jika diajak untuk mulai berjalan, dan kereta api yang sudah terlanjur berjalan dengan cepat sangat sulit untuk di ajak berhenti”.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Dapat Mandat PKB, H Nanang Persiapkan Diri Hadapi Pilwalkot Palu 2029

Dalam mata pelajaran fisika, dikenal dengan hukum 1 Newton yang disebut dengan sifat “kelembaman”. Jika benda telah bergerak akan cenderung untuk selalu bergerak dan jika dalam keadaan diam akan tetap cenderung mempertahankan dirinya untuk tetap diam.

BACA JUGA: Kajati Sulteng Syukuran Hari Bhakti Adhyaksa ke-66 Tahun

Gejala tersebut ada dalam diri setiap manusia, manakala kondisi hati dan perasaan lagi cenderung rajin, maka sulit untuk “dihentikan”, namun sebaliknya jika dihinggapi rasa malas sangat sulit untuk “merajinkannya”. Sikap bertahan di posisinya ini juga disebut bertahan di zona nyaman.

Pendidikan merupakan sesuatu yang dinamis, seiring dengan perubahan kehidupan itu sendiri. Ilmu dan sains pun demikian, tak akan pernah habis untuk dipelajari dan dikaji. Perubahan dalam kehidupan ini suatu keniscayaan, perubahan paradigma pendidikan dari waktu ke waktu akan mengalami perubahan.

Perubahan itu tentu saja akan menuai pro dan kontra, tergantung dari sudut pandang dan pendekatan penilaian masing masing. Demikian juga kurikulum diberbagai jenjang pendidikan, tak pelak lagi akan mengalami perubahan. Di alam demokrasi saat ini, berbeda pandangan dalam menyikapi sesuatu sangatlah lumrah.

Pada banyak kesempatan seringkali terucap kalimat “ganti presiden ganti kebijakan, ganti menteri ganti kurikulum”, hal itu tak sepenuhnya salah, karena setiap pemimpin tentunya memiliki visi dan misi masing masing yang harus diperjuangkannya jika mereka telah memiliki kekuasaan yang sah sesuai undang undang.

Menyikapi fenomena tersebut, sebagai pendidik berpredikat ASN, tentunya harus cepat beradaptasi dengan perubahan. Bola besar perubahan akan terus bergulir, seiring dengan waktu yang berjalan. Kurikulum pendidikan yang baru tentunya akan terasa “aneh” dan dianggap kurang pas dengan “selera”, itu dimaklumi dan sangat manusiawi sesuai dengan tahap pemikiran dari masing masing orang. Cepat atau lambat semua akan menuju perubahan, termasuk paradigma pendidikan itu sendiri.

Kereta api yang sedang berhenti akan berat jika diajak untuk mulai berjalan, dan kereta api yang sudah terlanjur berjalan dengan cepat sangat sulit untuk di ajak berhenti. Kereta api juga memiliki “rasa nyaman” di posisinya, saat ia sudah berjalan tak ingin diam dan saat diam ia tak mau diajak bergerak. Dia selalu bertahan di posisinya untuk mempertahankan kenyamanan.

Berkeluh kesah tidak akan meyelesaikan masalah, yang ada asam urat bertambah naik dan kolesterol akan meningkat. Saling menguatkan dalam kebermanfaatan menjadi salah satu cara untuk bergeser dari zona kenyamanan. Tak selamanya perubahan itu akan menjadi lebih baik, namun yang pasti jika ingin menjadi lebih baik harus ada perubahan.(***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *